Minggu, 22 September 2013

Senja Terakhir





Di sini kumenanti
Namun waktu begitu lambat melaju
Senja ini kulihat

Kursi tua telah beranjak lapuk dan usang
Di sinilah setiap senja tiba
Kududuk menghadap arah jendela
Berharap kau datang memberiku arti akan keagungan cinta

Menunggu itu lama ternyata
Hingga ilalang dipekarangan pun mati dan kering
Seperti pula rambutku yang kian memutih

Menunggu
yah kuterus menunggu
Di balik jendela ini bersama satu tanda tanya yang dalam

Tanpa terasa,sejuta senja telah lewat
Menghantar langkahmu yang kini belum kembali.
Hari ini,rupanya ragaku telah lelah
walau jiwaku masih tetap semangat untuk menantimu


Hari ini,aku berbisik pada rona merah senja
Aku bisikkan sejuta rinduku akan hadirmu
Tak lupa kutitip lara ini pada malam nanti
Semoga bayangmu masih dapat kuajak bermimpi
Karena ini,adalah senja terakhir

SAMPAI KEMUDIAN


Aku sudah lupa tentang terbangun tengah malam, merasakan hangatnya tawa di suara telepon seberang sana, hanya untuk mendengar, "Aku kangen, kamu di mana?"

Bagi sebagian orang mungkin itu menyebalkan. Bagiku seharusnya tidak. Karena dikangeni sama orang yang kita cinta, di bagian mananya yang menyebalkan? Bahkan jika itu dilakukan tengah malam.

Aku lupa bagaimana menikmati obrolan di sore hari ditemani tawa orang yang diseberangku dengan secangkir kopi dan beberapa roti isi selai strawberry. Menertawakan apa saja yang terjadi seharian ini, membicarakan apa saja termasuk tetek bengek harga bbm yang naik atau giliran pejabat siapa yang korupsi dan masuk berita hari ini.

Aku lupa rasanya ketika dua tangan saling menyematkan dua jari-jari lalu efeknya merembet ke hati.

Aku lupa rasanya menggandeng tangan, berjalan, tidak ada suara, tapi perasaannya sangat menyenangkan.

Aku lupa rasanya diucapkan, "Selamat malam, kamu," yang tanpa basa-basi. Murni karena memang ingin mengucapkan selamat malam kepadaku di akhir hari.

Aku lupa semua perasaan nyaman itu sudah lama.

Sampai kemudian, ada dia.


Karya : http://www.namarappuccino.com/2013/05/sampai-kemudian.html#more

Sabtu, 21 September 2013

Keping - Bersulang untuk Kebohongan Kita



1.
Mari bersulang untuk setiap kebohongan-kebohongan yang kita buat untuk menutupi perasaan kita sebenarnya.

PERPISAHAN TERMANIS



Sebuah Fiksi-Musikal

Cerita: Fahd Djibran

Aku dan kamu, bagai karang-pantai mencintai laut lepas. Dari jauh, aku mencintaimu dengan seluruh kekuranganku: Menatap gelombang ombak-rambutmu atau menikmati kilau cahaya-dirimu—pada senja yang menenggelamkan matahari di matamu.

Aku dan kamu, bagai karang-pantai mencintai laut lepas. Ribuan mil dari hatimu, setiap detik aku berusaha melacak cintamu pada setiap buih ombak yang menghantam diriku. Bila kukatakan padamu telah kutitipkan semua salamku pada nadi-nadi sungai yang merambat-bermuara menuju kedalaman hatimu, pernahkah ia benar-benar sampai padamu?

Hingga saatnya kita bertemu.

Dia. Bukan Kamu.



Kamu akan selalu menjadi yang kukagumi. Karena bagaimanapun juga, kamu adalah yang paling sesuai dengan apa yang aku impi.

Kamu juga akan selalu ada di ingatanku, karena bagaimanapun juga, kamu adalah orang yang pernah paling bisa memunculkan tawaku.

Jadi, kalau dulu aku bilang aku mencintaimu, itu bukan main-main. Karena memang kenyataannya bisa dibilang aku memperhatikanmu terlalu sering.


#namarrappuccino